Kekeringan Meluas, Komisi V Minta Pemda Antisipasi Krisis Air Bersih

- Pewarta

Kamis, 9 Juli 2026 - 10:51

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA- Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Irmawan, meminta pemerintah daerah (Pemda) segera bergerak cepat mengantisipasi meluasnya kekeringan yang menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah. Kekeringan yang meluas ini terjadi karena adanya El Nino yang diperkirakan akan menguat hingga 2027.

“Kekeringan yang semakin meluas berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah krisis air bersih yang merupakan kebutuhan paling mendasar. Pemda harus segera melakukan langkah antisipatif dan bergerak cepat agar dampaknya tidak semakin meluas,” ujar Irmawan di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan beberapa wilayah di Indonesia yang terdampak kekeringan akibat El Nino meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian Selatan dan Jawa Barat. Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat menyatakan bencana kekeringan akibat musim kemarau berkepanjangan telah meluas ke enam kabupaten dan satu kota di Jawa Barat, yakni Kabupaten Garut, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Tasikmalaya, serta Kota Sukabumi. Hingga awal Juli 2026, lebih dari 10.000 warga dilaporkan mengalami krisis air bersih.

Irmawan menegaskan bahwa krisis air bersih bukan sekadar persoalan keterbatasan pasokan air minum, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan, sanitasi, hingga ekonomi keluarga. Keterbatasan air bersih dapat menghambat aktivitas sehari-hari, meningkatkan risiko penyakit akibat sanitasi yang buruk, serta mengganggu kegiatan belajar anak-anak dan produktivitas masyarakat.

“Apabila kondisi ini tidak segera ditangani, masyarakat akan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti memasak, mandi, mencuci, hingga menjaga kebersihan lingkungan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit serta memperburuk kualitas hidup masyarakat,” katanya.

Irmawan meminta pemerintah daerah memperbanyak distribusi air bersih ke wilayah-wilayah terdampak melalui mobil tangki maupun penyediaan tandon air komunal. Menurutnya, distribusi air bersih harus dilakukan secara terukur dan berkelanjutan hingga masyarakat kembali memperoleh akses air yang normal.

“Jangan sampai masyarakat yang sudah terdampak kekeringan justru harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air bersih. Beban ekonomi mereka tentu akan semakin berat,” ujarnya.

Selain penanganan darurat, Irmawan juga meminta pemerintah daerah tidak hanya bersikap reaktif, tetapi mulai memperkuat langkah mitigasi menghadapi musim kemarau. Menurutnya, pemetaan daerah rawan kekeringan harus diperbarui secara berkala agar bantuan dapat disalurkan lebih cepat dan tepat sasaran.

Ia juga mendorong optimalisasi cadangan air melalui embung, waduk, sumur bor, serta pemanenan air hujan di daerah yang berpotensi mengalami kekeringan setiap tahun. Koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, PDAM, pemerintah desa, hingga dunia usaha juga harus diperkuat agar penanganan krisis air bersih berjalan lebih efektif.

Menurutnya, kekeringan yang terjadi hampir setiap musim kemarau harus menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memperkuat ketahanan air melalui pembangunan infrastruktur sumber daya air dan pengelolaan air yang lebih berkelanjutan, sehingga masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban ketika musim kemarau datang.

Berita Terkait

Pemred Award 2026 Anugerahkan Gavriel Novanto sebagai Tokoh Muda Terbaik Bidang Komunikasi dan Informasi Publik
Pegadaian Kanwil VIII Jakarta 1 Bantu Membangun Sejumlah Fasilitas Penunjang di Desa Wisata Kiarasari ‎
Nobar PKB Meriah! Cak Imin Prediksi Argentina Melaju ke Final Piala Dunia 2026
MKD DPR RI Perkuat Sinergi dengan Polri untuk Pengawasan Etik Anggota DPR RI
Sinergi Penegak Hukum Lebih Penting daripada Unjuk Kekuatan di Ruang Publik
DPR RI Dorong Percepatan Perluasan BPJS Ketenagakerjaan Wajib Menyentuh Pekerja Non-Formal, Desa, dan Guru Ngaji
Jannah Firdaus Travel Tegaskan Legalitas dan Rekam Jejak, Tempuh Jalur Hukum atas Dugaan Pencemaran Nama Baik
2,03 Juta Anak Habiskan Rp 4,5 Triliun untuk Beli Rokok, Komisi IX: Pemerintah Harus Tegas Terapkan Larangan

Berita Terkait

Senin, 6 Juli 2026 - 10:40

Pemerintah masih negosiasi peroleh pembayaran karbon untuk Jambi

Selasa, 23 Juni 2026 - 11:44

Polres Mukomuko tetapkan dua tersangka korupsi pembangunan RTH

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:36

Gubernur Sulteng kunjungi lokasi terdampak gempa bumi di Sigi

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:02

Endang Setyawati Thohari Salurkan Ratusan Paket Beras untuk Warga Kurang Mampu di Sejumlah Wilayah Kota Bogor

Senin, 8 Juni 2026 - 11:57

KPK Temukan 28 Persen indikasi Pungli di SPMN se-Indonesia, Inspektorat Bojonegoro Perketat Pengawasan

Rabu, 3 Juni 2026 - 10:56

Wagub Jambi: Lima Ranperda inisiatif DPRD beri manfaat positif

Selasa, 2 Juni 2026 - 11:53

Wali Kota Kupang Hadiri Peringatan HLUN 2026 Bersama Mensos RI

Selasa, 26 Mei 2026 - 22:38

Relawan Ahmad Irawan Tabur Benih Ikan di Aliran Sungai Kecamatan Ampelgading

Berita Terbaru

Internasional

AS hantam puluhan target militer Iran dekat Hormuz

Rabu, 15 Jul 2026 - 13:01