Reses yang digelar Anggota DPRD Kota Malang, Muhammad Anas Muttaqin, kali ini terasa berbeda. Sam Anas sapaan akrabnya memilih berdialog langsung dengan pengurus dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Selasa (10/2/2026), untuk membahas berbagai isu kepemudaan hingga persoalan kota yang belakangan kian kompleks.
Dalam forum tersebut, Sam Anas menegaskan bahwa pemuda memiliki peran penting dalam menentukan arah pembangunan daerah. Menurutnya, Kota Malang bukan sekadar kota wisata atau kota jasa, tetapi juga dikenal luas sebagai kota pendidikan yang dihuni ribuan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kota Malang ini dipenuhi anak-anak muda dan putra-putri daerah yang harus turut berkontribusi dalam pembangunan. Baik di bidang politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, dan sektor lainnya,” ujar Sam Anas.
Ketua Komisi C DPRD Kota Malang itu menyampaikan, ruang diskusi dengan organisasi mahasiswa seperti PMII penting untuk memperkuat keterlibatan generasi muda.
Ia menilai, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat, khususnya kalangan pemuda yang dikenal kritis dan kaya gagasan.
Dalam dialog tersebut, Sam Anas menyebut banyak aspirasi yang disampaikan kader PMII. Salah satunya terkait perlunya dukungan pemerintah dalam memfasilitasi anak muda agar lebih berdaya, produktif, dan mampu berkontribusi secara nyata dalam pembangunan.“Aspirasi yang muncul antara lain peningkatan keterampilan, pelatihan-pelatihan, hingga penyediaan ruang aspirasi agar anak muda bisa menyampaikan gagasan demi kebaikan Kota Malang ke depan,” jelasnya.Tidak hanya membahas isu kepemudaan, forum reses itu juga menyinggung persoalan yang saat ini dirasakan langsung masyarakat Kota Malang. Mulai dari maraknya hiburan malam, kabel semrawut, tata kota, pengelolaan sampah, hingga berbagai persoalan lain yang dinilai perlu dibenahi.
Sam Anas menilai, kritik dan masukan dari mahasiswa serta organisasi kepemudaan menjadi energi penting untuk membangun Kota Malang lebih tertib, nyaman, dan memiliki arah pembangunan yang jelas.
“Pembangunan sumber daya manusia membutuhkan masukan dari banyak pihak. Kritik dan gagasan dari generasi muda sangat dibutuhkan demi mewujudkan Kota Malang yang lebih baik,” tegasnya.
Sementara itu, Edi Purwanto, Alumni PMII, menekankan bahwa PMII sebagai organisasi kaderisasi harus terus memainkan peran strategis dalam mengawal kebijakan publik. Menurutnya, PMII tidak cukup hanya menjadi ruang aktivisme, tetapi juga harus melahirkan kader-kader yang mampu membaca persoalan masyarakat secara mendalam.
“PMII adalah organisasi pengkaderan. Maka sudah seharusnya mendidik kader-kadernya agar berpihak pada rakyat, dengan dibekali berbagai pisau analisis seperti analisis sosial, anggaran, dan kebijakan,” ujar Edi.
Ia juga menyoroti pentingnya kader PMII mengambil peran di sektor strategis, termasuk di dunia politik. Namun, keterlibatan tersebut harus dibangun melalui proses kaderisasi yang baik dan berbasis kompetensi.
“Jika ada kader yang memiliki kualifikasi menjadi anggota dewan, maka harus didorong. Namun tentu dengan bekal pengetahuan, kompetensi, dan proses yang baik, agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar pro terhadap rakyat,” pungkasnya.
Melalui kegiatan reses tersebut, Sam Anas berharap aspirasi generasi muda dapat menjadi bagian dari pijakan dalam merumuskan kebijakan pembangunan Kota Malang, sekaligus memperkuat sinergi antara legislatif dan organisasi kepemudaan.




















