Fani Foundation Kecam Kasus Kekerasan Seksual di Ponpes Pati, Desak Penegakan Hukum Tegas

- Pewarta

Selasa, 5 Mei 2026 - 19:57

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Terassenayan.com, Jakarta – Menanggapi mencuatnya kasus dugaan kekerasan seksual yang terjadi di salah satu pondok pesantren di Pati, Jawa Tengah, Founder Fani Foundation, Fani Ruusul Masail, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus menyerukan langkah tegas dari semua pihak terkait.

Fani menegaskan bahwa lembaga pendidikan, termasuk pondok pesantren, seharusnya menjadi ruang yang aman, bermartabat, dan melindungi seluruh santri tanpa terkecuali. Ia menyayangkan terjadinya peristiwa yang mencederai nilai-nilai pesantren yang dilakukan oleh oknum cabul yang sejatinya bukan prodak pesantren.

“Kami mengecam keras segala bentuk kekerasan seksual, terlebih yang terjadi di lingkungan pendidikan. Tidak ada toleransi bagi pelaku, siapapun itu, dan proses hukum harus ditegakkan secara transparan serta adil,” ujar Fani dalam keterangannya.

Fani Foundation juga mendorong agar korban mendapatkan perlindungan maksimal, termasuk pendampingan psikologis, bantuan hukum, serta jaminan keamanan dari potensi tekanan atau intimidasi. Menurut Fani, keberanian korban untuk melapor harus diapresiasi dan didukung penuh oleh negara serta masyarakat.

Selain itu, Fani menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan di lembaga pendidikan, khususnya pesantren. Ia mengusulkan adanya standar perlindungan anak yang lebih ketat, mekanisme pelaporan yang aman, serta pelatihan pencegahan kekerasan seksual bagi seluruh tenaga pendidik.

“Kasus ini harus menjadi momentum perbaikan sistemik. Kita tidak boleh hanya fokus pada penanganan kasus, tetapi juga pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang,” tambahnya.

Fani Foundation menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan pemerintah, aparat penegak hukum, serta organisasi masyarakat sipil dalam upaya penguatan perlindungan anak dan pemberantasan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.

Di akhir pernyataannya, Fani mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak menormalisasi atau menutupi kasus kekerasan seksual demi menjaga nama baik institusi.

“Melindungi korban jauh lebih penting daripada menjaga reputasi. Keadilan dan keselamatan anak harus menjadi prioritas utama,” tutupnya.

Berita Terkait

Solusi Baitullah Indonesia Soroti Pentingnya Perlindungan Jemaah dan Penataan Pemasaran Umrah
Hanan A. Rozak Apresiasi Arah Kebijakan Pertanian Dua Tahun Pemerintahan Prabowo – Gibran: Capaian Baik Harus Diikuti Kesejahteraan Petani
TNI akan tindak lanjuti informasi KPK soal dua prajurit terlibat kasus BNPB
DCW Desak KPK Usut Dugaan Jual Beli Jabatan dan Pengaturan Proyek di Kabupaten Demak
KPK panggil Direktur Fasilitas Kepabeanan Bea Cukai sebagai saksi
DPR Minta Pemerintah Perkuat Perlindungan UMKM dari Gempuran Produk Impor dan Persaingan Digital
DPR Setujui Komjen Suyudi Jadi Kapolri, Dilantik Siang Ini
Komisi II DPR RI Dukung Ombudsman Awasi Kasus Lapas Cibinong

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:09

KPK sita dokumen dan uang usai geledah Dinkes PPKB Kota Madiun

Selasa, 22 September 2026 - 11:00

Chusnunia : Pelajaran Bolosego, Berantas Pungli untuk Kemajuan UMKM dan Pariwisata

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:21

Helikopter Basarnas Evakuasi Korban Gempa NTT

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:58

Inspektorat Situbondo tindak lanjut temuan BPK

Senin, 6 Juli 2026 - 10:40

Pemerintah masih negosiasi peroleh pembayaran karbon untuk Jambi

Selasa, 23 Juni 2026 - 11:44

Polres Mukomuko tetapkan dua tersangka korupsi pembangunan RTH

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:36

Gubernur Sulteng kunjungi lokasi terdampak gempa bumi di Sigi

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:02

Endang Setyawati Thohari Salurkan Ratusan Paket Beras untuk Warga Kurang Mampu di Sejumlah Wilayah Kota Bogor

Berita Terbaru

Opini

Perubahan Diri dalam Lensa IRT

Selasa, 27 Okt 2026 - 16:20