Seminar Internasional LD PBNU–National Dong Hwa University Bahas Moderasi Islam dan Isu PMI di Taiwan

- Pewarta

Jumat, 16 Januari 2026 - 20:26

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) bersama National Dong Hwa University menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “A Dialogue of Wisdom: Fostering Da’wah of Moderate Islam (Islam Wasathiyah) for a Peaceful Global Future”, bertempat di Lantai 5 Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (13 Januari 2026), pukul 16.00–18.00 WIB.

Seminar ini menghadirkan delegasi akademik dari National Dong Hwa University, Taiwan, yang dipimpin langsung oleh Dr. Jun Yu-chun Ku, Director of Social Participation Center sekaligus Distinguished Professor College of Environmental Studies & Oceanography. Ia didampingi oleh peneliti senior Prof. Li-Fang Liang serta enam peneliti dan akademisi lainnya.

Dalam sambutan pembuka, Dr. Jun Yu-chun Ku menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada PBNU, khususnya LD PBNU, atas kesediaan menerima delegasi akademik dari Taiwan. Ia menegaskan bahwa agama di Indonesia memiliki posisi yang sangat unik dan substantif.

“Agama bagi masyarakat Indonesia bukan sekadar ritual, tetapi menjadi nilai yang menghidupi seluruh aspek kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia menilai, pendekatan keberagamaan semacam ini memiliki relevansi besar dalam upaya pendampingan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan. Oleh karena itu, Dr. Jun berharap LDPBNU dapat berperan lebih aktif dalam memberikan konseling keagamaan bagi PMI guna meminimalkan berbagai pelanggaran administratif yang kerap muncul akibat kurangnya pemahaman keagamaan dan regulasi.

Menanggapi hal tersebut, Ketua LD PBNU Dr. KH. Abdullah Syamsul ‘Arifin menjelaskan bahwa LD PBNU selama ini secara konsisten mengirimkan kader-kader terbaiknya melalui program Da’i Go Global ke berbagai negara, termasuk Taiwan.

“Tujuan utama pengiriman da’i adalah mendampingi PMI dengan pemahaman Islam yang inklusif, ramah, dan toleran, sekaligus membekali mereka agar mampu bekerja secara profesional tanpa harus menanggalkan identitas sebagai Muslim dan warga negara Indonesia,” tegasnya.

Sementara itu, Prof. Li-Fang Liang dalam paparannya mengungkapkan kekagumannya terhadap karakter keberagamaan masyarakat Indonesia yang aplikatif dan membumi.

“Agama di Indonesia menjadi ruh kehidupan. Ini berbeda dengan sebagian masyarakat Taiwan yang cenderung mengingat Tuhan hanya ketika berada dalam kesulitan,” ungkapnya.

Ia berharap ke depan LD PBNU tidak hanya mengirimkan delegasi khusus untuk PMI, tetapi juga menyiapkan kader dakwah yang mampu berkontribusi dalam menumbuhkan kesadaran beragama di kalangan masyarakat lokal Taiwan. Menurutnya, model dakwah Nahdlatul Ulama yang inklusif, damai, dan humanis sangat relevan dengan kehidupan masyarakat multikultural.

Pada sesi diskusi, alumni Da’i Go Global LD PBNU, Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, membagikan pengalamannya selama satu bulan berdakwah di Taichung, Taiwan. Ia menuturkan bahwa praktik moderasi dan toleransi beragama di Taiwan telah berjalan cukup baik.

“Pemerintah Taiwan memberikan ruang dan fasilitas bagi umat Islam, termasuk dalam perayaan Idul Fitri dan Idul Adha. Bahkan, tidak jarang wali kota Taipei hadir langsung memberikan sambutan,” jelasnya.

Namun demikian, alumni Da’i Go Global lainnya, Fani Ruusul Masail, mengingatkan bahwa di lapangan masih terdapat sejumlah tantangan. Ia mencontohkan pengalamannya ketika mengunjungi shelter PMI bermasalah, di mana petugas imigrasi menolak pemberian mukena dan perlengkapan salat karena minimnya edukasi tentang hak beribadah.

Sebagai penutup, Wakil Rektor III Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Dr. Fira Mubayyinah, menyampaikan harapan agar ke depan terbangun kerja sama konkret antara Nahdlatul Ulama dan Pemerintah Taiwan, yang dapat dijembatani oleh National Dong Hwa University, khususnya dalam isu moderasi dan toleransi beragama.

Seminar ini menjadi penanda penting bahwa dialog akademik lintas negara tidak hanya berfungsi sebagai ruang pertukaran gagasan, tetapi juga sebagai jembatan peradaban—menghubungkan nilai, kemanusiaan, dan masa depan Islam yang damai di tengah dunia global.

Berita Terkait

AS hantam puluhan target militer Iran dekat Hormuz
Budy Sugandi Dianugerahi Türkiye Alumni Awards 2026 atas Kontribusi di Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan
Norwegia Kalahkan Irak 4-1, Haaland cetak dwigol pada debut Piala Dunia
Timwas Haji PKB Soroti Minimnya Tenaga Kesehatan dalam Pelaksanaan Haji 2026
Timwas Haji DPR RI : Transportasi Lancar, Cita Rasa Makanan Perlu Penyesuaian
Iran ancam tutup Selat Bab al-Mandab jika AS perketat blokade laut
Putin akan undang Prabowo kembali ke Rusia pada Mei dan Juli 2026
AMPHURI : Wacana “war ticket” haji perlu kajian Lagi

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 14:10

Korupsi nikel Kejagung sita Rp401 miliar dari PT CNI

Selasa, 1 September 2026 - 14:05

KPK sita rumah anggota DPRD Kota Bengkulu Vinna Ledy di Jakarta Selatan

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:57

Badan Pemeriksa Keuangan catat Rp2,17 miliar harus dipulihkan Pemerintah Kabupaten Banggai

Rabu, 15 Juli 2026 - 13:13

KPK panggil lima ASN BPK Jadi Saksi, usai geledah rumah anggota BPK Bobby Rizaldi

Senin, 13 Juli 2026 - 11:49

Imigrasi cegah eks Jampidsus keluar negeri usai ditetapkan tersangka

Selasa, 7 Juli 2026 - 10:08

Tim Anggaran Kabupaten Bekasi tindak lanjuti opini hasil audit BPK RI

Kamis, 18 Juni 2026 - 12:00

MK Tolak Permohonan Anggota PBB atas UU Partai Politik

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:57

Hery Susanto Jalani Sidang Perdana Kasus Nikel Pekan Depan

Berita Terbaru

Opini

Bahlil, AMPI dan Komitmen Kerakyatan yang Manusiawi

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:36