Mengapa Fisika Menjadi Alat Bedah Perjalanan Bahlil Lahadalia?

- Pewarta

Rabu, 5 Agustus 2026 - 13:35

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: M. Shoim Haris

Setiap orang membawa energi. Ada yang habis sebelum sempat menyala. Ada yang padam karena keadaan. Tetapi ada pula energi yang terus membesar justru karena ditempa oleh kemiskinan, kegagalan, dan penderitaan. Energi seperti itulah yang saya lihat dalam perjalanan hidup Bahlil Lahadalia.

Buku Energi Bahlil adalah upaya saya untuk membaca perjalanan seorang anak bangsa dengan kacamata fisika. Bukan karena ingin terlihat intelektual. Saya menggunakan fisika karena saya menemukan kebenaran mendalam: hukum alam dan hukum kehidupan ternyata sama.

Pertanyaannya: kenapa harus fisika?

Alasan Pertama: Fisika Adalah Bahasa Universal

Fisika adalah bahasa yang tidak mengenal kelas, suku, atau negara. Seorang anak di Banda dan seorang profesor di Harvard bisa memahami hukum yang sama: energi tidak pernah hilang, gravitasi selalu menarik ke bawah, reaksi berantai tumbuh secara eksponensial.

Saya memakai fisika karena saya ingin buku ini dibaca oleh semua orang. Bukan hanya ekonom atau analis kebijakan. Saya ingin anak SMA di Papua, ibu rumah tangga di Jawa, nelayan di Sulawesi, dan mahasiswa di Jakarta bisa merasakan bahwa buku ini adalah tentang mereka.

Fisika adalah jembatan. Ia menjembatani akal dan perasaan. Ia menjembatani yang rumit dan yang sederhana. Ia menjembatani cerita individu dan hukum universal.

Alasan Kedua: Fisika Membuat Abstrak Menjadi Konkret

Bayangkan: Saya ingin menjelaskan kebijakan hilirisasi nikel kepada pembaca awam. Jika saya pakai bahasa ekonomi, saya akan bicara tentang nilai tambah, rantai pasok, dan investasi asing. Mata pembaca pasti akan mengantuk.

Tapi ketika saya katakan: “Bahlil adalah reaktor nuklir yang melepaskan neutron pertama,” pembaca langsung paham: ini adalah ledakan perubahan.

Ketika saya katakan: “Larangan ekspor nikel adalah reaksi berantai—satu neutron memicu dua, dua memicu empat, empat memicu delapan,” pembaca langsung paham: satu keputusan bisa mengubah segalanya.

Fisika membuat yang abstrak menjadi konkret. Ia memberikan gambar untuk sesuatu yang tidak terlihat. Ia memberikan bentuk untuk sesuatu yang hanya terasa. Ini penting karena kebijakan publik sering terasa jauh dan asing bagi masyarakat. Dengan fisika, saya mendekatkannya.

Alasan Ketiga: Fisika Menunjukkan bahwa Perjuangan Bukan Kebetulan

Banyak orang melihat kesuksesan Bahlil dan berkata: “Dia beruntung.” Atau: “Dia ditakdirkan.”

Saya tidak menyangkal peran takdir. Tapi saya ingin menunjukkan bahwa di balik takdir, ada hukum-hukum yang bekerja.

  • Energi potensial adalah beban hidup yang ia bawa sejak kecil: lapar, kerja keras, tanggung jawab. Semakin besar beban, semakin besar energi yang tersimpan.
  • Gravitasi adalah kemiskinan yang terus menariknya ke bawah. Tapi roket justru membutuhkan gravitasi besar untuk lepas landas.
  • Energi aktivasi adalah keberanian untuk melangkah: menaiki Kapal Perintis tanpa uang, mundur dari jabatan direktur, turun ke Batang tanpa master plan.
  • Reaksi berantai adalah hasil dari satu keputusan berani: melarang ekspor nikel mentah.
  • Fusi adalah hasil dari kerja keras membangun kepercayaan selama puluhan tahun, hingga faksi-faksi yang saling tolak bisa disatukan.
  • Homeostasis adalah hasil dari pilihan-pilihan strategis yang diambil jauh-jauh hari: diversifikasi impor, biodiesel B50, peningkatan lifting.

Kesuksesan Bahlil tidak bisa disimplifikasi ‘keberuntungan dan keajaiban’. Ia adalah hasil dari hukum-hukum yang sama yang mengatur alam semesta. Dan itu berarti: hukum yang sama berlaku untuk kita semua.

Alasan Keempat: Fisika Memberi Makna pada Doa dan Usaha

Inilah yang paling penting bagi saya.

Fisika mengajarkan bahwa energi tidak pernah hilang, hanya berubah bentuk. Ini adalah janji ilmiah yang sekaligus menjadi janji spiritual.

  • Setiap tetes keringat ayahnya yang mengaduk semen—tidak hilang. Ia berubah menjadi ketekunan Bahlil.
    · Setiap helai pakaian yang digosok ibunya—tidak hilang. Ia berubah menjadi doa yang menemani Bahlil.
  • Setiap rasa lapar yang ditahan Bahlil kecil—tidak hilang. Ia berubah menjadi empati pada rakyat kecil ketika ia membuat kebijakan.
  • Setiap penghinaan yang ia terima—tidak hilang. Ia berubah menjadi keberanian untuk berdiri di hadapan Uni Eropa dan berkata: “Ini tentang martabat.”

Tidak ada yang sia-sia. Ini adalah pesan yang saya ingin sampaikan kepada setiap pembaca.

Dan di sinilah fisika bertemu dengan iman. Di sinilah sains bertemu dengan doa. Di sinilah akal bertemu dengan hati. Karena energi sejati, pada akhirnya, tidak berasal dari minyak, gas, atau batu bara. Energi sejati berasal dari keyakinan. Dari doa. Dari cinta. Dari kesadaran bahwa di balik setiap persamaan, ada Tangan yang menulisnya.

Penutup: Lingkaran Energi yang Sempurna

Buku ini dimulai dengan energi yang dilepaskan—di Jenewa, di ruang sidang WTO, ketika Bahlil berdiri dan berkata: “Ini tentang martabat.”

Buku ini diakhiri dengan energi yang disimpan—di Banda, di bawah lampu minyak, ketika seorang ibu berbisik: “Belajar yang rajin. Supaya kamu tidak hidup dalam gelap terus.”

Di antara keduanya, ada perjalanan panjang yang menunjukkan bagaimana energi potensial berubah menjadi energi kinetik, bagaimana doa seorang ibu berubah menjadi kebijakan bangsa, bagaimana seorang anak kecil dari Banda berubah menjadi pemimpin yang mengubah Indonesia.

Inilah lingkaran energi yang sempurna.

Bahlil bukan sekadar orang. Ia adalah metafora. Ia adalah anak Indonesia yang berjuang keluar dari kemiskinan. Ia adalah negara berkembang yang berjuang menjadi negara maju. Ia adalah hukum fisika itu sendiri.

Energi tidak pernah hilang. Ia hanya berubah bentuk. Dan mungkin, di sebuah desa yang jauh dari pusat kekuasaan, sedang tumbuh seorang anak yang hari ini belum dikenal siapa pun. Seperti Bahlil puluhan tahun lalu, ia tampak biasa. Tetapi di dalam dirinya, mungkin sedang tersimpan energi yang suatu hari akan mengubah Indonesia.

 

M. Shoim Haris adalah penulis buku “Energi Bahlil”, peneliti di ADCENT, penulis novel dan kandidat doktor Ilmu Ekonomi di UNTAG Surabaya.

Berita Terkait

Dari Stabilitas Menuju Produktivitas: Mengunci Transformasi Ekonomi Indonesia
Pembangunan Sekolah Rakyat: Upaya Presiden Prabowo Melakukan Pemerataan Sekolah Unggulan di Semua Daerah Demi Memperkuat Daya Saing dan Kecerdasan Anak Desa
Strategi Akselerasi Gas Bumi: Kompas Kemandirian Energi dan Pilar Pertumbuhan Ekonomi Era Prabowo
Reformasi Tata Kelola Tambang dalam Perspektif IRT
KESEMPATAN KEDUA INDONESIA
PNBP Melampaui Target, Tax Ratio 9,31%: Alarm Keras untuk Transformasi Fiskal 2026
Optimisme, Kredibilitas, dan Batas Rasional Komunikasi Kebijakan Ekonomi
Baterai Karawang: Fondasi Kedaulatan Energi Nasional

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 13:35

Mengapa Fisika Menjadi Alat Bedah Perjalanan Bahlil Lahadalia?

Minggu, 28 Juni 2026 - 16:49

Pembangunan Sekolah Rakyat: Upaya Presiden Prabowo Melakukan Pemerataan Sekolah Unggulan di Semua Daerah Demi Memperkuat Daya Saing dan Kecerdasan Anak Desa

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:27

Strategi Akselerasi Gas Bumi: Kompas Kemandirian Energi dan Pilar Pertumbuhan Ekonomi Era Prabowo

Sabtu, 30 Mei 2026 - 10:03

Reformasi Tata Kelola Tambang dalam Perspektif IRT

Senin, 6 April 2026 - 12:04

KESEMPATAN KEDUA INDONESIA

Sabtu, 7 Februari 2026 - 12:46

PNBP Melampaui Target, Tax Ratio 9,31%: Alarm Keras untuk Transformasi Fiskal 2026

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:20

Optimisme, Kredibilitas, dan Batas Rasional Komunikasi Kebijakan Ekonomi

Minggu, 1 Februari 2026 - 21:04

Baterai Karawang: Fondasi Kedaulatan Energi Nasional

Berita Terbaru